Rabu, 14 Maret 2012

TANK LEOPARD Jerman Lebih Menjanjikan

Jumat, 9 Maret 2012
JAKARTA (Suara Karya): Terkait rencana pembelian tank tempur utama atau main battle tank (MBT) Leopard 2A6, tawaran Jerman lebih menjanjikan dibandingkan Belanda.
"Tawaran Jerman cukup menjanjikan untuk mengisi kekosangan. Apalagi Belanda masih ada permasalahan dari parlemen," kata Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Pramono Edhie Wibowo, di Mabes TNI AD, Jakarta, Kamis (8/3).
Selain dapat melakukan "transfer of technology" (TOT), Jerman juga menawarkan "joint production" untuk pembuatan beberapa bagian tank seberat 60 ton tersebut, dengan menggandeng PT Pindad.
Bahkan, tutur dia, Jerman menantang kesiapan industri pertahanan dalam negeri. Prinsipnya dalam merawat teknologi tinggi itu perlu persiapan matang, dan membutuhkan waktu cukup lama untuk mempelajarinya.
"Ini tak bisa dalam tiga tahun kita memproduksinya. Tidak sederhana teknologinya," ucapnya seraya mengaku pihaknya berencana membeli Tank Leoprad dari Jerman.
Menurut Pramono, belum satu suaranya pemerintah Belanda dengan parlemen membuatnya harus bersikap tegas, terlebih tidak adanya perbedaan harga dengan yang ditawarkan Belanda.
Oleh karena itu, pihaknya mengusahakan agar anggaran 280 juta dolar AS mampu mendapat 100 Tank Leopard. Namun, kalau pihaknya sudah "deal" dengan Jerman, dan pemerintah Belanda setuju menjual Leopard, maka TNI AD akan membeli dari keduanya.
"Adapun mekanisme pembelian dilakukan langsung antarpemerintah (goverment to goverment)," ujarnya. Pramono tak menyangkal Tank Leopard 2A6 adalah hasil "retrofit 2A4" alias pengembangan teknologi terbaru karena cetak baru teknologi Leopard serupa sudah tidak diproduksi lagi.
Ia pun yakin Tank Leopard dari negara Eropa tidak membawa konsekuensi apapun, terlebih hingga terancam bakal terkena embargo. "Tidak ada alasan untuk mengembargo kalau kondisi Indonesia seperti sekarang," tutur Pramono seperti dikutip Antara.
Sebelumnya, Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menuturkan, pihaknya berencana membeli Tank Leopard dari Jerman, bila pemerintah Belanda menolak rencana pemerintah Indonesia itu.
"Opsi yang kami lakukan itu tidak semata-mata pembelian dari Belanda. Kami akan melihat proses mana yang lebih mudah, lebih lancar, lebih efisien. Itu yang kami simpulkan nanti memilih yang mana," tutur Sjafrie di Jakarta, pekan lalu.
Menurut dia, Jerman merupakan "original country" dari pembuat Leopard. Setiap pembelian peralatan Leopard dari negara manapun harus tetap menggunakan izin penjualan dari Jerman.
Saat ini, tutur dia, Kemhan tengah mengadakan observasi yang dilaksanakan oleh tim Angkatan Darat untuk mengetahui keunggulan, baik secara teknis maupun taktik.
"Jerman mengusulkan adanya kerja sama modernisasi secara `government to government` (antar-pemerintah)". Artinya, pembelian Leoprad tidak hanya membeli peralatannya, namun juga sistemnya. Sistemnya ini mulai dari pemeliharaan hingga bagaimana persiapan amunisinya karena amunisinya sangat spesifik," kata Sjafrie. (Feber S)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar