Selasa, 06 Maret 2012

Oh maigot, Mata It

__


__ _21 Oktober 2011...
____Aku membuka facebook. Hal pertama yang aku buka adalah profil dia. Baru dua minggu yang lalu aku berani mengirimkan permintaan pertemanan. Sungguh gila, aku rasa aku benar-benar sudah gila. Aku jadi ketergantungan informasi mengenai dia.
____Aktivitasnya yang terakhir adalah tanggal 10 Oktober 2011. Itu pun hanya berteman dengan seorang laki-laki yang tak kukenal. Baguslah, aku tidak perlu kuatir. Sepertinya dia jarang update status. Bahkan wall dari temannya tak juga pernah dibalas. Lalu untuk apa kamu punya facebook? Supaya aku bisa melihatmu? Hah…?
____Kini aku membuka album fotonya. Profile picture itu bukan fotonya! Aku tahu persis, itu bukan dia. Rambut kriting, sambil memegang helm dengan baju bernomor 46. Aku tak pernah bisa tahu apa yang dia pikirkan. Padahal dia jauh lebih ganteng daripada si keriting itu.
____Aku menarik napas panjang.
____Tiba-tiba di luar kuasaku, senyumku mengembang dengan sendirinya. Hanya dengan melihat sepasang mata itu bisa mengobati kerinduanku. Wajahnya yang terpotret dengan ekspresi polos. Matanya masih seteduh dulu. Teduh. Yah, itu yang kurindukan darinya.
____Aku menyandarkan kepalaku di pinggir tempat tidur. Kami sama-sama kuliah di Surabaya. Tapi tak sekali pun aku bisa bertemu dengannya.
____Walau aku sering berkeliaran di kampusnya, tetap saja aku tidak berkesempatan menangkap bayangannya.
* * *____
25 Juli 2007...
____Ada yang aneh denganku hari ini. Datang ke sekolah 20 menit sebelum bel berbunyi. Padahal, biasanya aku datang tepat satu detik setelah bel masuk sekolah dipencet Pak Sol. Mau ngapain coba? Hari ini tidak ada PR yang harus kusalin. Tidak juga ada ulangan yang harus kubuat contekannya.
____Aku menatap bangku di seberangku. Kosong. Masih sama seperti kemarin. Dan akan terus sama sampai tanggal 17 Agustus. Lalu kenapa aku harus memikirkannya? Ini keadaan yang aku tunggu. Ah…, sudahlah.
____Aku bangkit dan pergi meninggalkan kelas yang masih sangat sepi itu. Tapi mau kemana? Aku tidak tahu.
____Aku melongok ke bawah. Pintu perpustakaan yang suram itu tiba-tiba tampak terang benderang. Seolah-olah melambai-lambaikan tangannya untuk mengajakku masuk. Selama dua tahun lebih aku sekolah di sini, rasanya baru sekali aku masuk ke sana. Itu pun saat MOS. Cerita seram selalu ada di balik berdirinya perpustakaan. Mulai dari buku yang sering jatuh sendiri, siswi yang duduk di pojok padahal tak ada yang mengenalnya, lalu bau-bau wangi di dekat rak cerita rakyat, dan yang menggemparkan adalah kesurupan enam bulan yang lalu.
____Seketika itu juga bulu kudukku berdiri.
____Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku.
____“Hwaa…!” aku berteriak sekencangnya.
____“Apaan sih teriak-teriak?!” Dila sudah membekap mulutku.
____“Ngagetin makhluk hidup tau gak sih….”
____Dila mengernyit. “Lagian kamu ngapain pagi-pagi udah datang? Tumben banget!” 

Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.
____“Gak tahu juga. Makanya ini binggung mau ngapain. Eh lagi lihat perpus terus ingat cerita mistis, kamu malah ngagetin.”
____“Sekali-kali ke perpuslah. Cuma sekedar say hello sama Bu Astri penjaga perpus juga gak apa-apa. Siapa tau kalau lagi beruntung bisa ketemu si mata teduh.”
____“Si mata teduh? Siapa? Setan? Hi….”
____“Yaelah, Nad. Masa kamu ga tahu sih?”
____Aku menggeleng.
____“Davin, anak IPA 2", jawab Dila gemas.
____“Davin, aku tahu sih. Yang pinter itu kan? Apa hubungannya sama mata teduh?
____“Ya ampun, Nad. Matanya itu, aduh… teduh banget. Menentramkan jiwa dan raga!”
____Aku mencoba menerawang. Seingatku, aku pernah lihat penampakannya tapi tidak pernah benar-benar mengamatinya. Bukannya dia sama saja dengan cowok kebanyakan yang berkeliaran di sekolah ini? Tak terlalu istimewa untuk digilai cewek. Tapi kalau Dila yang ngomong, kayaknya dia sama sekali tidak recommended deh.
____Aku tersenyum kecil. Entah mengapa aku merasa sedikit penasaran. Dalam hatiku berkata “Siapa tahu tidak seburuk mantan-mantan Dila sebelumnya.”
* * *__
_Aneh, tiba-tiba aku mulai ingin tahu tentang segala yang berhubungan dengan perpustakaan. Dengan segala kemistisannya dan juga yang ada di dalamnya. Termasuk si mata teduh itu. Kata Dila, kalau beruntung bisa bertemu dia. Berarti kalau tak beruntung bakal ketemu “penghuninya” dong. Ih… serem.
____Bu Astri yang super galak sudah duduk di singgasananya, menambah angkernya perpus. Rambutnya yang kaku disasak tinggi. Alis matanya yang terangkat. Tanpa mendengar suaranya yang bak emak-emak kehilangan konde pun beliau sudah terlihat sangarnya. Aku menuruti kata Dila tadi pagi.
____“Halo, Bu....”
____Bu Astri memicingkan matanya. “Murid baru ya?”
____“Iya, Bu. Baru kelas tiga dan baru pertama kalinya ke perpus!” jawabku dengan senyum manis penuh kejujuran.
____Bu Astri diam seperti tercekat lalu mengibaskan tangannya. “Sudah, masuk sana! Nanti kalau mau pinjam buku baru bikin kartu di sini. Ingat, bukunya jangan dirusak dan kembalikan ke urutan semula di rak! Paham?” Aku mengangguk dan langsung ngacir dari hadapan penjaga perpus yang kiler itu.
____Hah…, mau baca buku apaan? LKS saja tidak pernah aku baca. Aku hanya bisa gali-gali lubang hidung. Hari ini aku benar-benar aneh. Yah, paling tidak aku bisa bertemu orang-orang yang tak pernah aku temui di kantin ketika istirahat. Tapi aku yakin pasti mereka merasa terganggu ada makhluk yang lagi pede ngupil di perpus dan menaruh hasilnya di rak buku.
____“Itu si Davin ya?”
____“He’eh, sebenarnya sih lumayan juga. Tapi cueknya gak ketulungan. Mana ada cewek yang mau sama dia?”“Jadi dia belum punya pacar?”
____“Ya iyalah. Mana ada cewek normal yang mau deket-dekat sama dia? Bisa-bisa ketularan jadi es, sama dinginnya kayak dia. Aku sih ogah, biar kata dia pinter, kalau kayak gitu... bisa bikin makan ati.”
____Davin? Berarti dia ada di sini.
____Entah apa yang terjadi, aku bersemangat mencarinya.
____Semoga saja aku tidak salah orang.
____Aku berhenti sebentar, mencoba berpikir. Terus, kalau sudah ketemu mau ngapain? Aku melipat tangannku di sebuah rak. Berpikir tentang kata-kata Pak Rusli, guru agama tadi pagi.
____“Takdir itu sudah diatur. Jatuhnya sehelai daun pun sudah diatur.” Berarti insiden berangkat kepagian dan nyasar di perpus itu sudah diatur? Lalu?
____Buku yang ada di hadapanku diambil seseorang dari seberang rak yang membuatku kaget. Zlep…, jantungku berdetak tak karuan. Bagaikan sebuah adegan di film-film romantis, semuanya terasa berhenti ketika aku melihat sepasang mata di antara deretan buku-buku di depanku. Sepasang mata teduh itu membuat hatiku ribut.
____Itukah dia?
____Aku bergegas menuju balik rak.
____Tampak seorang cowok sedang memunggungiku.
____Setengah ragu aku memanggil. “Davin, ya?”
____Dia menoleh. Begitu melihat matanya, aku yakin dia orang yang sama dengan yang tadi. Dia mengamatiku dari ujung ubun-ubun sampai ujung tali sepatu.
____“Lagi belajar buat casting film Ada Apa Dengan Cinta, ya?” jawabnya enteng.
____Hah? What? Aku hanya melongo. Dia pergi meninggalkanku begitu saja. Mungkin cewek yang kesurupan enam bulan lalu sebelumnya juga bertemu dengan Davin.
____Aku hanya bisa mematung. Rasanya jantungku masih tak karuan. Omongannya tak seteduh matanya. Aku tidak bisa mendengar dan meraskan apapun. Dia yang membuatku seperti ini untuk pertama kalinya.
____Yang aku ingat, Bu Astri menggetok kepalaku dengan kipas tangannya.
____“Anak perawan jangan ngelamun di sini!”
____(Iya / Bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar